Langsung ke konten utama

Perjalanan Menuju Lulus SNMPTN 2013


Sejak SMP saya memang sudah punya niat untuk kuliah, jurusan apapun dan dikampus manapun ngga masalah. Bahkan sejak SD kelas 6 saya pengen banget bisa kuliah di IPDN. Saat itu ada sebuah ujian yang cukup berat, tapi saya yakin bahwa kasih sayang Allah jauh lebih Besar dari ujian yang Allah berikan saat itu. Meskipun kita punya masalah besar, kita harus bilang gini ke si masalah besar “Hei masalah besar, saya punya Allah Yang Jauh Maha Besar.” Dengan ujian berat yang dialami keluargaku saat itu dan di satu sisi semangat saya begitu menggebu ingin kuliah, saya berusaha memutar otak bagaimana caranya mendapatkan beasiswa dikampus manapun dan jurusan apapun agar saya bisa kuliah. 
Sejak kelas X, Allah mudahkan saya untuk membuat jejak-jejak kecil nan manis, diantaranya Allah mudahkan saya untuk mengerjakan semua tugas, ujian dan praktikum dengan sebaik-baiknya yang bisa saya lakukan. Saya masih ingat, matematika bukan hal yang saya sukai tapi tidak saya benci juga. Selama SMA, setelah Bu Erni pindah tugas ke Palembang, guru matematika diganti oleh Pak Undang. Saya memang pada dasarnya kurang srek sama matematika jadi kadang lambat ngerti, dan lagi dengan Pak Undang yang masih baru buat saya, ada proses penyesuaian dari metode mengajar Bu Erni dan lagi-lagi saya harus menyesuaikan metode belajar beliau. Tapi saya ngga mau nyerah, mulai kelas XI saya belajar matematika sama Pak Undang, saya tetep berusaha keras mengikuti dan memahami nya dengan baik.
Saya ngga nyerah gitu aja, saya cerita ke Pak Undang bahwa saya perlu bimbingan matematika diluar jam pelajaran, di jam istirahat saya gapapa deh asalkan beliau berkenan. Alhamdulillah beliau dengan sabar mengajari saya, alhamdulillah saya ngerti dikit-dikit dan akhirnya sampai final kelas 12 saya masih tetap belajar diluar jam pelajaran sama beliau. Dahsyatnya beliau tetap setia mengajari siswa nya yang ini dengan penuh kesabaran. Ahamdulillah kelas X semester 1 saya rangking 1, semester 2 saya rangking 2, kelas XI di 2 semester rangking 1 hingga kelas XII, dan di semester akhir kelas 12 saya mendapatkan predikat siswa berprestasi nilai ujian sekolah terbaik. Alhamdulillah semua itu berkat do’a-do’a orang tua, nenek keluarga serta pada guru saya. Tanpa mereka dan tanpa do’a mereka apalah arti pencapaian saya.
Alhamdulillah sejak kelas XI saya mulai intens diskusi dengan guru-guru, baik guru BK dan guru bidang studi lain. Masih saya ingat, setiap jam istirahat selepas saya makan kalo ada guru BK/guru lain di kantin yang lagi free saya pasti tanya “maaf Pak/Bu sedang sibuk atau tidak? Boleh kah saya bertanya dan diskusi soal kuliah?” Alhamdulillah semua guru di SMAN 14 Ciamis (SMAN 1 Cisaga) sangat baik dan sangat mendukung siswanya untuk maju. Pak Undang guru bidang studi Matematika di kelas saya, salah satu inspirasi saya, beliau cerita soal bagaimaan perjuangan beliau dulu kuliah hingga menjadi guru seperti sekarang ini.  Pak Subowo guru BK yang juga sama menceritakan bagaimana perjuangan nya dulu untuk sekolah, ketika beliau harus berjuang menjadi kuli membuat bata/menjual bata untuk mendapatkan biaya sekolah. Dan dengan kesabaran, mereka bisa menjadi orang yang bermanfaat seperti sekarang ini. Pak Subowo dan Pak Undang terus memberikan informasi seputar kuliah, kampus kedinasan yang full beasiswa dan juga semangat lainnya agar saya tetap semangat. Pak Subowo juga cerita soal kampus STP, almamaternya dulu ketika S1 beliau mendapatkan beasiswa dari STP. Pak Undang, Bu Imas, juga sering memberikan semangat ke saya bahwa banyak ko beasiswa yang bisa kamu apply, jangan putus asa tetaplah semangat. Dan salah satu penyemangat saya adalah Bu Lilis, yang dalam setiap pelajaran sosiologi nya selalu memberikan nasehat yang selalu menyentuh hati saya. Diantara banyak nasehat dari mata pelajaran sosiologinya yang paling saya ingat adalah, pendidikan itu social elevator, menunda masa tua dan memperpanjang usia muda dan perjuangan pengalaman Bu Lilis semasa kuliah dulu. Tiap kali Bu Lilis menjelaskan materi sosiologi atau menceritakan perjuangan pengalaman kuliahnya dulu, saya selalu mikir dan rasanya nasehat beliau masuk ke sanubari saya. Itu semua yang nambah semangat saya buat kuliah. Sambil saya terus memohon sama Allah lewat shalat wajib, hajat, shalat tahajud, shalat dhuha, dzikir dan lainnya.
Hari itu, rasa nya masih saya ingat, saat harapan kuliah hampir terwujud, bahkan saya sudah diterima di prodi Ilmu Hukum Universitas Galuh Ciamis tinggal bayar uang kuliah aja, tetapi qaddarullah Allah belok kan saya ke jalan yang memang sudah direncanakan-Nya. Kemudian suatu hari saya minta izin ke Mama untuk daftar IPDN, karena kuliah dimanapun dan jurusan apapun ngga masalah buat saya yang penting saya bisa kuliah dibiayai dengan beasiswa. Mama menolak dan intinya tidak mengizinkan, masih saya ingat kata Mama “Kamu kuliah di Universitas yang umum aja jangan IPDN, Mama takut denger berita kasus ada praja yang meninggal di IPDN.” Saat itu, saya berencana untuk daftar IPDN dan STP juga selain mendaftar SNMPTN, ya kalo ada kesempatan baik mah di coba aja semuanya karena manusia sangat wajib berikhtiar.
Tidak lama setelahnya, Allah tunjukkan rencana indah nya. Tanggal 27 Mei 2013, Allah berikan saya kelulusan pada SNMPTN 2013 di Program Studi pilihan pertama Kampus pilihan pertama (Program Studi Administrasi Publik Universitas Padjadjaran). Sayang nya saat itu saya ngga bisa daftar Bidikmisi karena laman pas mau log in nya eror terus. Bismillah, jika Allah sudah tetapkan ini rezeki saya in syaa Allah akan Allah mudahkan meski tanpa terdaftar sebagai peserta bidikmisi diawal pendaftaran SNMPTN. Belum sampai disana kebingungan saya, begitulah Allah Mengetahui bahwa saya bisa menghadapi semua ujian ini. Tanggal 11 Juni 2013 seluruh siswa dan orang tua yang lulus SNMPN 2013 diundang oleh Kampus Unpad untuk silaturrahmi (open house) d fakultas masing-masing. Pagi itu, saya berangkat sama Pak Subowo Guru BK saya sama Dede, Gisha, Anti, Erna, Andi dan orang tua masing-masing dari Ciamis jam 02.00. Kemudian kita berangkat ke Jatinangor. Alhamdulillah, jam 06.30 kami sudah sampai di Rektorat Unpad. Hari itu, teman-teman yang lulus SNMPTN jalur Bidikmisi open house sekaligus registrasi. Saat itu, status saya belum terdafatar sebagai peserta bidikmisi. Alhamdulillah, Gisha, Dede, Anti, Erna, Andi hari itu sudah dinyatakan resmi sebagai mahasiswa baru Unpad, dan saya masih deg-deg an karena saya masih harus menunggu jumlah tagihan UKT saya.
Dalam acara open house di FISIP ini, mama saya bertanya kepada pihak kampus mengenai kondisi ekonomi kami jika kami tidak bisa membayar jumlah UKT yang ditagihkan. Kemudian pihak kampus menjamin bahwa tidak boleh ada siswa yang lulus SNMPTN kemudian mengundurkan diri karena tidak punya biaya, pihak kampus akan membantu dengan berbagai alternatif yang bisa dilakukan. Angin segar lagi-lagi menghampiri dan ini adalah salah satu jawaban Allah. Di meja registrasi dekanat FISIP, tampak anak-anak Protokoler FISIP dengan busana khas nya, da ternyata itu Teh Intan (Wakil Direktur Jenderal Protokol Fisip Unpad 2014). Alhamdulillah, sejak pertama kali melihat Teh Intan Mulyasari dengan busana protokoler dan kerapian serta kesopanan nya, itulah yang membuat saya kepo sama PFU hingga akhirnya qaddarullah saya pun menjadi bagian dari Protokol FISIP Unpad 2013-2015.
Setelah di instruksikan pihak kampus untuk menunggu tagihan UKT, saya terus memantau udah ada apa belum tagihan nya. Beberapa hari kemudian saya mengecek akun student unpad dan mendapatkan jumlah tagihan UKT nya sebesar Rp.500.000,-. Alhamdulillah Allah berikan saya rezeki dan tanggal 13 Juni 2013 saya bisa bayar UKT Rp.500.00,-. Selanjutnya adalah registrasi yang isi kegiatannya itu verifikasi berkas persyaratan di Kampus tanggal 18-19 Juni 2013 di Bale Santika Unpad Jatinangor.
Hari itu, 18 Juni 2013 saya datang pagi ke Bale Santika Unpad untuk melakukan registrasi, alhamdulillah dapat antrian yang tidak begitu gede. Dan karena dalam sistem registrasi nya ada banyak bilik jadi proses registrasi calon mahasiswa baru SNMPTN non Bidikmisi berjalan lebih cepat. Saya menyerahkan semua berkas yang dipersyaratkan kampus dan setelah verifikator memvalidasi semua berkas saya, kemudian saya diminta mengenakan jas almamater yang telah disediakan dan berfoto close up, kemudian setelah semua data valid terbitlah kartu tanda mahasiswa. Kemudian saya mendapatkan goodie bag berlogo unpad dan warna khas unpad yang didalamnya ada jas almamater, buku panduan akademik fakultas dan id dan password untuk log ini SIAT (sistem informasi akademik terpadu alias PAUS ID/Padjadjaran Authentic User Setudent ID). Alhamdulillah saya resmi dinyatakan sebagai civitas akademika Unpad, senang nya. Siapa sangka, bahkan saya sendiri pun tidak pernah menyangka saya akan Allah tempatkan kuliah di salah satu PTN terfavorit ini.
Pada saat mendaftar SNMPTN, apakah saya punya infomasi yang banyak tentang kampus ini? Punya, tapi sedikit, salah satu nya dari Kang Habib atau siapa saya lupa, yang pada saat saya kelas 12 SMA, beliau datang sosialisasi Unpad sama teman-teman Paguyuban Keluagra Mahasiswa Ciamis Galuh Taruna Bandung Komisariat Unpad. Sayang nya, entah telinga saya yang lagi ngga konsen tentang paguyuban KMC atau apa, saya sama sekali ngga tau soal KMC dan hanya terfokus sama sosialisasi tentang Unpad nya aja, hanya itu. Pada saat memilih kampus tujuan, yang saya selalu ingat adalah PTN pilihan pertama harus PTN yang ada di Provinsi SMA kita, karena SMA saya di Jawa Barat jadi pilihan pertama saya harus pilih PTN  yang ada di Jabar (UI, IPB, UPI, UNPAD,ITB,UIN Sunan Gunung Djati). Qaddarullah saat itu saya pilih Unpad di pilihan pertama dan Un**** di pilihan ke dua. Pemilihan ini bukan karena saya menomorduakan kampus lain tetapi karena memang aturan nya seperti itu, PTN pilihan pertama harus PTN yang ada di provinsi SMA berada adan piliahn kedua baru boleh bebas kampus mana aja. Karena saya basic SMA nya IPS dan saya suka IPS, sehingga pada saat memilih prodi SNMPTN pun saya pilih yang soshum semua, ini formasi yang saya pilih di SNMPTN 2013:
Kampus pilihan 1 Unpad (Jawa Barat):
1. Prodi Ilmu Administrasi Negara (FISIP)
2. Manajemen (FEB)
Kampus pilihan 2 U***** (Luar Jabar)
1. Sosiologi
2. Manajemen
Alhamdulillah semua proses ini bisa saya hadapi dengan baik, dan ternyata Allah jauh lebih sayang sama saya. Allah dengan mudah nya buka kan jalan yang indah buat saya dan saya bisa kuliah.
Satu bulan setelah saya menjalani perkuliahan, tiba-tiba datang pegawai rektorat Unpad ke rumah untuk menanyakan apakah saya mau daftar bidikmisi karena kuota bidikmisi di Unpad saat itu masih banyak yang belum terisi. Kebetulan hari itu saya lagi dirumah pertama kali mudik setelah hampir 2 bulan kuliah di Jatinangor. Tanpa pikir panjang saya langsung meng-iya kan dan bertolak ke Jatinangor untuk mengurus prosedurnya. Alhamdulillah kurang dari satu minggu saya urus prosedur nya di rektorat, prosesnya selesai dan tinggal menunggu hasilnya. Alhamdulillah satu bulan setelah itu, Allah berikan kabar gembira buat saya, saya lulus bidikmisi dan di instruksikan untuk langsung membuka rekening nya di Bale Santika bersama teman-teman Bidikmisi lain yang sudah diawal terdaftar sebagai peserta Bidikmisi. Begitulah salah satu rencana indah Allah untuk saya, tidak pernah saya menyangka akan dapat beasiswa ini. Sejak saat itu, November 2013 saya resmi di tetapkan dengan SK Rektor sebagi penerima beasiswa Bidikmisi. Artinya mulai semester 2-8 tagihan UKT saya akan dibayarkan oleh beasiswa Bidikmisi juga setiap bulan saya mendapatkan uang saku Rp.600,000 per bulan, uang buku Rp.400,00 per semester. Alhamdulillah Wasyukurillah.
Bagi teman-teman yang sedang berjuang dan menghadapi kebingungan menuju jenjang perguruan tinggi, jangan khawatir. Berusaha dan bero’a sebaik dan semaksimal mungkin yang kamu bisa, karena kuasa Allah itu melebihi dunia dan isinya. Pada hakikatnya, rezeki kita sudah Allah tetapkan, kita hanya bertugas untuk menjemputnya melalui ikhtiar sebelum kita tahu bahwa itu adalah rezeki kita, soal penentuan itu rezeki kita atau bukan itu mutlak kewenangan Allah. Just let all to Allah SWT, makesure your heart!
Nina Marlina, S.A.P
Bandung, 22 Juli 2018.







Komentar